Kamis, 16 Mei 2013

KARAKTERISTIK HASIL SENI RUPA ANAK



PENDIDIKAN SENI RUPA

KARAKTERISTIK HASIL SENI RUPA ANAK


Oleh:
Arifa Ade Nurjanah             (1401410007/4A)
Kurnia Novita Sari               (1401410022/4A)
Dwi Resmi Novita Sari         (1401410033/4A)
Nurahman Gilar Santoso     (1401410043/4A)
Eli Santi                                  (1401410063/4A)




JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ketika pulang kerja dari sekolah, alangkah terkejutnya Ibu Paulin melihat hampir seluruh bagian depan dinding rumahnya dipenuhi coretan spidol. Padahal, rumahnya  itu  baru  dicat  minggu  yang  lalu  dengan  cat  yang  harganya  lumayan mahal. Dia tampak sangat marah, siapa yang melakukan  hal  ini. Kemudian dia memanggil anaknya, Ktut (3 tahun) dan Yanti (5 tahun), kemudian menanyakan hal tersebut. Ternyata, menurut  jawaban  anaknya,  yang  menggambari  bidang depan  dinding  rumahnya  itu  adalah  mereka  dan  beberapa  anak  tetangganya. Bagaimana kalau peristiwa itu terjadi pada Anda? Apa yang akan anda lakukan terhadap anak-anak tadi?
Berdasarkan  ilustrasi  di  atas,  tentunya  kita  menyadari  bahwa  manusia secara  kodrati  menyenangi  akan  nilai-nilai  keindahan.  Sejak  masa  kanak-kanak, kita  dapat  menyaksikan  kegiatan  mereka  yang  berhubungan  dengan  kegiatan menggambar sesuatu objek berdasarkan imajinasinya. Oleh karena itu, tidak heran pada masa anak-anak kecil  sering menggoreskan pensil, spidol, arang kayu pada dinding  rumah,  menggoreskan  ranting  atau  benda  tertentu  pada  tanah  tempat bermainnya, dan sebagainya. Fakta ini tidak bisa kita sangkal bahwa masa  anak sebagai  dunia bermain,  sangat    erat kaitannya dengan bahasa visual,  khususnya dalam bentuk gambar.
Anak di berbagai tempat di belahan dunia ini memiliki kesamaan umum. Mereka merespon cara ini melalui pengalaman. Mereka tertawa dan menangis, bermain, berdrama, menyanyi dan menari. Mereka juga sering mengadakan pengamaan terhadap alam sekitanya, mengubah berbagai benda baik bentuk maupun  tata letak bennda secara atraktif. Pemahaman  dunia  kesenirupaan  anak-anak  diperlukan  dalam  kegiatan belajar mengajar seni rupa terutama untuk:
1.      memilih pendekatan dalam membina interaksi belajar mengajar yang baik;
2.      merancang bahan pengajaran, baik tahunan, semesteran, harian;
3.      memilih  dan  menentukan  jenis  kegiatan  yang  sesuai  dengan  pusat  minat (perangsang daya cipta) pada saat-saat tertentu;
4.      memilih  dan  menetukan  metode  yang  akan  digunakan  dalam  proses  pembelajaran; dan
5.      mengadakan  evaluasi  agar  kita  tidak  keliru  dalam  menggunakan  tolok  ukur, agar ciri-ciri keberhasilan gambar buatan orang dewasa tidak digunakan untuk mengukur keberhasilan gambar buatan anak kecil.

B.       Tujuan
  1. Memahami berbagai tipe gambar anak
  2. Menggolongkan gambar anak sesuai dengan tipenya
  3. Memahami periode perkembangan anak dalam menggambar
  4. Mengaplikasikan periode perkembangan kemampuan untuk menggambar ke dalam pembelajaran di Sekolah Dasar
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Seni Rupa Anak Sekolah Dasar
Setiap  guru SD perlu mengenal latar belakang anak didiknya, khususnya landasan  teori  tentang  dunia  kesenirupaan anak yang telah dikembangkan oleh para ahli, agar ia dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Anak Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 6 - 12 tahun. Berdasarkan teori tahap-tahap  perkembangan  menggambar/seni  rupa  secara  garis  besar  dapat dibedakan  dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai  dengan kuatnya daya fantasi-imajinasi, sedangkan kelas IV sampai dengan kelas  VI  ditandai  dengan  mulai  berfungsinya  kekuatan  rasio.  Perbedaan  kedua karakteristik  ini  tampak  pada  gambar-gambar  (karya  dua  dimensi)  atau  model, patung dan perwujudan karya tiga dimensi lainnya.
Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni rupa anak-anak. Pertama, mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan seni rupa anak menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak   berdasarkan rentang usia yang relevan  dengan  teori  yang telah  kita  pelajari.  Melalui  kegiatan  ini, diharapkan  kita  bisa  memahami  perkembangan  seni  rupa  anak  secara komprehensif.
Dalam  psikologi perkembangan dinyatakan baha pada rentang  kehidupan manusia  khususnya  anak  ada  yang disebut masa keemasan yang dikenal  dengan masa  peka .Hal  ini  dipertegas oleh Piere  Duquet  (1953)  bahwa:  “ A  children  who  does  not  draw  is  an  anomaly,  and  particulary  so  in  the  years between  6 and 10, which is outstandingly  the  golden  age  of  creative  expression”.
Pada  masa  peka  atau  keemasan  ini  anak  harus  diberi  kesempatan  agar  potensi  yang  dimilikinya  berfungsi secara maksimal. Masa peka tiap orang berbeda-beda. Secara umum, masa peka menggambar ada pada masa lima tahun, sedangkan  masa peka  perkembangan  ingatan  logis  pada  umur  12 dan  13 tahun (Muharam dan Sundaryati, 1991). Selanjutnya, untuk terciptanya  kesempatan  bagi  siswa  agar  dapat melakukan  ekspresi  kreatif,  maka  guru  perlu  melakukan  kegiatan  berupa: 1) memberi  perangsang (stimulasi) kepada  siswa, 2) guru dapat mempertajam imajinasi dan memperkuat emosi siswa dengan menggunakan metode pertanyaan yang dikembangkan Sokrates.
Kemampuan siswa kelas rendah dalam membuat gambar tampak lebih spontan dan kreatif dibandingkan dengan siswa kelas tinggi. Hal ini terjadi karena semakin  tinggi  usia  anak,  maka  kemampuan  rasionya  semakin  berkembang sehingga  dapat  berpikir  kritis.  Kondisi  ini  akan  mempengaruhi  anak  dalam  hal spontanitas  dan  kreatifitas  karya.  Bila  rasionya  sudah  berfungsi  dengan  baik, maka  dalam  membuat  karya  seni,  misalnya  menggambar,  mereka  selalu mempertimbangkan  objek  gambar  secara  rasional;  bentuk  yang  baik,  proporsi yang tepat, penggunaan warna yang cocok sesuai dengan benda yang dilihatnya.
Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa  karya  seni  rupa  anak  bersifat ekspresif  dan  dinamis  (Camaril,  dkk.  1999).  Apa  yang  digambarkan  anak mencerminkan  pribadinya,  mengungkapkan  apa  yang  diketahuinya  dan  tidak menggambar sesuai dengan kenyataan. Kesukaan akan gerak digambarkan dengan warna  tajam  mencolok  serta  objek-objek  penuh  gerak  seperti  binatang,  orang, kendaraan.  Tetapi, jika dikaji ternyata bahwa secara umum terjadi  pentahapan (periodisasi) dalam perkembangan dunia kesenirupaan anak.

B. Periodisasi Perkembangan Seni Rupa Anak-Anak
Pengelompokan  periodisasi karya  seni  rupa  anak  dimaksudkan  agar  kita mudah  mengenali  karakteristik perkembangan  anak  berdasarkan usianya. Dalam mengungkapkan gagasannya, anak  masih  memandang  gambar  sebagai  satu ungkapan  keseluruhan. Hal ini  belum tampak  bagian demi  bagian secara  rinci. Yang tampak hanyalah bagian-bagian kecil yang menarik perhatian, terutama yang menyentuh perasaan dan keinginannya.
Ada beberapa tokoh yang telah melakukan kajian yang seksama berkenaan dengan  periodisasi  karya  seni  rupa  anak,  di  antaranya  Corrado  rici  dari  Italia  (1887),  Kemudian  dilanjutkan  oleh  Sully,  Kerchensteiner,  William  Stern,  Cyrul Burt,  Margaret  Meat,  Victor  Lowenfeld  dan  Brittain,  Rhoda  Kellogg,  Scot, Langsing, dan lain-lain.
1.      Perodisasi menurut Kerchensteiner 
Upaya yang telah dilakukan Kerchensteiner adalah mengadakan penyelidikan pada anak-anak dari masa bayi sampai empat belas tahun. Dari 100.000 buah gambar ia menggolongkannya dalam beberapa periode, masa, yaitu:
            Masa Mencoreng                    : 0 - 3 tahun
            Masa bagan                            : 3 - 7 tahun
            Masa bentuk dan garis            : 7 - 9 tahun
            Masa bayang-bayang              : 9 - 10 tahun
            Masa persfektif                       : 10 - 14 tahun
(Muharam dan Sundaryati, 1991: 34)
2.      Periodisasi menurut Cyrl Burt
Membagi periodisasi gambar menjadi tuju tingkatan, yaitu:
            Masa mencoreng                   : 2 - 3 tahun
            Masa garis                             : 4 tahun
Masa simbolisme deskriptif    : 5 - 6 tahun
            Masa realisme deskriftif          : 7 - 8 tahun
            Masa realisme visual               : 9 - 10 tahun
            Masa represi                            : 10 – 14 tahun
            Masa pemunculan artistic        : masa adolesen
(Lowenfeld, 1975: 118-119)
3.      Periodisasi  menurut  Viktor  Low enfeld  dan  Lambert  Brittain  adalah:
Penyelidikan yang dilakukan terhadap anak-anak usia 2 sampai 17 tahun menghasilkan periodisasi sebagai berikut:
            Masa mencoreng (scribbling)                         : 2-4
Masa Prabagan (preschematic)                                    : 4-7
Masa Bagan (schematic period)                                  : 7-9
Masa Realisme Awal (Dawning Realism)                  : 9-12
Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic)           : 12-14
Masa Penentuan (Period of Decision                          : 14-17 tahun.
(Lowenfeld, 1975)
4.      Periodisasi menurut Rhoda Kellog dan Scott
Beliau melakukan penelitian di 30 negara dengan lukisan/gambar anak yang diteliti lebih dari 1.000.000 gambar. Hasil penelitiannya terhadap gambar anak-anak cicatat dengan teliti.
            Coretan dan corengan (Scribble and Scriblin)            : 2 - 3 tahun
            Rahasia bentuk (The Secrets of Shape)                      : 2 - 4 tahun
            Seni Kontur (Art in Outline)                                       : 2 - 4 tahun
            Anak dan desain (The Child and Design)                  : 3 - 5 tahun
            Mandala, matahari dan Radial (Mandlas, Suns, and Radials)   : 3 - 5 tahun
Manusia People)                                                          : 4 - 5 tahun
            Mirip Gambar (AlmostPictures)                                  : 4 – 6 tahun
Gambar (Pictures)                                                       : 5 –7 tahun
(Muharam dan Sundaryati, 1991: 34-35)
5.  Periodisasi menurut  Lansing
            Masa coreng-moreng                           : 2-4 tahun
            Masa/tahap figurative                                     : 3-12 tahun
            Subtahap permulaan figuratif                         : 3 -7 tahun
            Subtahap pertengahan figuratif          : 9-10 tahun
            Subtahap akhir figuratif                      : 9-12 tahun
            Tahap artistic                                       : 12 tahun ke atas
(Kamaril, 1999: 2.38)
Berdasarkan  tahapan  periodisasi  di  atas,  pada  bahan  belajar  mandiri  ini Anda  akan  mempelajari  pendapat  yang  dikemukakan  antara  lain  dari  Viktor  Lowenfeld  dan Brittain. Alasan pemilihan pendapat  tokoh ini karena pembagian usia  anak  lebih  lengkap  dan  dipandang  mewakili,  sesuai  dengan  jenjeng pendidikan di negara kita, yaitu usia 7 – 12 tahun (SD), 13 – 15 tahun (SMP), dan usia 16 –18 tahun (SMA).
Tahap  perkembangan  menurut  Viktor  Lowenfeld  dan  Lambert  Brittain (1970)  dalam Creative  and  Mental Growth  membagi periodisasi  perkembangan seni rupa anak sebagai berikut:
a. Masa Coreng-Moreng (Scribbling Period)
Kesenangan  membuat  goresan  pada  anak-anak  usia  dua  tahun  bahkan sebelum dua tahun sejalan dengan perkembangan motorik tangan dan jarinya yang masih  menggunakan  motorik  kasar. Hal ini dapat kita  temukan  anak  yang melubangi atau melukai kertas yang digoresnya. Goresan-goresan yang dibuat anak usia 2-3 tahun belum menggambarkan suatu bentuk objek. Pada awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan gerak motorik. Biasanya, tahap pertama hanya mampu menghasilkan goresan terbatas, dengan arah vertical atau  horizontal.  Hal  ini  tentunya  berkaitan  dengan kemampuan  motorik  anak  yang  masih  mengunakan  moRotik  kasar.  Kemudian, pada perekmbangan berikutnya penggambaran garis  mulai beragam dengan arah yang  bervariasi  pula.  Selain itu mereka juga sudah mampu  mambuat  garis melingkar.
Periode ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama. Ciri  gambar  yang  dihasilkan  anak  pada  tahap  corengan  tak  beraturan adalah bentuk gembar yang sembarang, mencoreng tanpa melihat ke kertas, belum dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi. Corengan terkendali ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan kendali visualnya terhadap coretan yang dibuatnya. Hal  ini tercipta dengan telah adanya  kerjasama  antara  koordiansi  antara  perkembangan  visual  dengan perkembangan  motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan garis baik yang horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.Corengan  bernama  merupakan tahap  akhir  masa  coreng  moreng. Biasanya  terjadi  menjelang usia 3-4 tahun, sejalan  dengan  perkembangan bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama, misalnya: “rumah”, “mobil”, “kuda”. Hal ini dapat digunakan oleh orang tua atau guru pada jenjang pendidikan usia dini (TK) dalam membangkitkan keberanianan anak untuk mengemukakan kata-kata tertentu atau pendapat tertentu berdasarkan hal yangdigambarkannya. Anak-anak memiliki jiwa bebas, ceria. Mereka sangat menyenangi warna-warna yang cerah misalnya dari crayon. Kesenangan  menggunakan  warna biasanya  setelah  ia  bisa  memberikan  judul  terhadap  karya  yang  dibuatnya. Penggunaan  warna  pada  masa  ini  lebih  menekankan  pada  penguasaan  teknik-mekanik  penempatan  war na  berdasar kan  kepr aktisan  penempatannya dibandingkan dengan kepentingan aspek emosi.
Pada  masa  mencoreng, bila  anak  difasilitasi oleh orang  tua  maka  akan memiliki peluang untuk melakukan kreasi dalam hal garis dan bentuk, mengembangkan  koordinasi  gerak, dan mulai  menyadari  ada hubungan  gambar dengan lingkungannnya. Hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru pada masa ini adalah dengan memberi perhatian terhadap karya yang sedang dibuat anak sehingga tercipta kemampuan komunikasi anak dengan orang dewasa secara melalui bahasa visual.

b. Masa PraBagan (Pre Schematic Period)
Usia anak pada tahap ini bisanya berada pada jenjang pendidikan TK dan SD kelas awal. Kecenderungan umum pada tahap ini, objek yang digambarkan anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada  dua  garis sebagai pengganti kedua kaki. Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris untuk memberi kesan objek dari dunia sekitarnya. Koordinasi tangan lebih berkembang. Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan objek, orang bisa saja berwarna biru, merah, coklat atau warna lain yang disenanginya.

Penempatan dan ukuran objek bersifat subjektif, didasarkan kepada kepentingannya. Jika objek gambar lebih dikenalinya seperti ayah dan ibu, maka gambar dibuat  lebih besar  dari  yang  lainnya. Ini dinamakan dengan “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.


c. Masa Bagan (Schematic Period)


Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar masih  tetap  berkesan  datar  dan  berputar  atau rebah  (tampak pada  penggambaran  pohon  di  kiri  kanan  jalan  yang  dibuat  tegak  lurus  dengan badan  jalan,  bagian  kiri  rebah  ke  kiri,  bagian  kanan  rebah  ke  kanan). Pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line).

Penafsiran ruang bersifat subjektif, tampak pada gambar “tembus pandang” (contoh: digambarkan orang makan di ruangan,  seakan-akan dinding terbuat dari kaca). Gejala ini disebut dengan idioplastis (gambar terawang, tembus pandang). Misalnya gambar sebuah  rumah yang seolah-olah  terbuat  dari  kaca bening, hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.
Kenyataan  di  atas  diperkuat  oleh  pandangan  Max  Verworm  (Zulkifli, 2002:  45)  bahwa  anak  menggambar  benda-benda  menurut  apa  yang  dilihatnya. Hasil  karya  anak-anak  itu  disebutnya  gambar  fisioplastik.  Anak  yang  belum berumur  8 tahun belum  mampu menggambar apa yang  dilihatnya tetapi mereka menggambar  maenurut  apa  yang  sedang  dipikirkannya.  Hasil karya  mereka  itu disebut gambar ideoplastik.
Pada masa ini juga, kadang-kadang dalam satu bidang gambar dilukiskan berbagai peristiwa yang berlainan waktu. Hal ini dalam tinjauan budaya dinamakan  continous  narrative,  anak  sudah  bisa  memahami  ruang dan waktu. Objek gambar yang dilukiskan banyak dan berulang menggambarkan sedang dilakukan.
d.  Masa Realisme Awal  ( E arly Realism)
Pada periode Realisme Awal, karya anak lebih menyerupai kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan objek dalam lingkungan. Selain itu kesadaran untuk berkelompok dengan  teman sebaya dialami pada  masa  ini. Perhatian kepada objek sudah mulai rinci. Namun demikian, dalam menggambarkan objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pemahaman warna sudah mulai disadari. Warna biru langit  berbeda dengan biru air laut. Penguasan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga letak objek  tidak lagi  bertumpu pada  garis dasar, melainkan pada  bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis  horizon. Selain dikenalnya warna dan ruang, penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini. Ada perbedaan kesenangan umum, misalnya: anak laki-laki lebih senang kepada menggambarkan  kendaraan, anak perempuan kepada  boneka atau bunga.
e.    Masa Naturalisme Semu
Pada masa naturalisme semu, kemampuan berfikir abstrak serta kesadaran sosialnya makin berkembang. Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan terhadap karyanya sendiri. Pengamatan kepada  objek lebih  rinci. Tampak  jelas perbedaan anak-anak bertipe  haptic den gan  tipe visual.  Tipe visual memperlihatkan  kesadaran rasa ruang, rasa  jarak  dan lingkungan, dengan  fokus pa da  hal- hal yang  menarik perhatiannya.Penguasaan rasa perbandingan (proporsi)  serta  gerak tubuh  objek lebih meningkat. Tipe  haptic memperlihatkan  tanggapan keruangan  dan objek secara subjektif, lebih banyak menggunakan perasaannya. Gambar-gambar gaya kartun  banyak digemari.
Ada  sesuatu yang  unik pada  masa  ini, di  mana  pada satu  sisi  anak ekspresi kreatifnya sedang muncul sementara kemampuan intelektualnya berkembang dengan  sangat pesatnya. Sebagai akibatnya, rasio anak seakan-akan menjadi penghambat dalam proses berkarya. Apakah gambar ini seperti kucing? Sementara kemampuan menggambar kucing kurang misalnya. Sebagai akibatnya mereka  malu kalau memperlihatkan  karyanya kepada sesamanya.
f. Periode Penentuan
Pada periode ini tumbuh kesadaran akan kemampuan diri. Perbedaan tipe individual makin tampak. Anak yang berbakat cenderung akan melanjutkan kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni akan berlangsung terus dalam kehidupan. Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa  pun tak  akan terhindar dari sentuhan  seni dalam kehidupannya sehari-hari.


C. Tipologi Gambar Anak
Gaya ungkapan sering  dilupakan  dalam  pelaksanakan  pendidikan  seni rupa. Apabila kita mencoba mengumpulkan tulisan sejumlah orang, maka dengan mudah kita  akan  melihat perbedaann gaya  ungkapan  tulisan  mereka.  Padahal mereka sama-sama belajar menulis, akan tetapi setelah  menulis  sudah tidak  lagi bagian  belajar. Setelah kegiatan menulis  menjadi  kegiatan  spontan, maka setiap orang menghasilkan gaya tulisan berbeda-beda. Dalam kegiatan menggambar pun sesungguhnya demikian. Kegiatan menggambar kebanyakan dilakukan dengan tidak spontan, bahkan dilakukan dengan ragu-ragu, terutama oleh anak-anak besar yang tidak berbakat seni rupa, maka gaya ungkapannya tidak tampak sama sekali. Hal ini disebabkan oleh goresan-goresan yang membentuk itu dibuat masih dalam proses belajar. Sehubungan  dengan  ini  paling  tidak  anak-anak  tidak  mendapat tekanan  untuk  menuruti  kehendak gurunya (menggambar  secara visual-realistis, yang sesuai kesukaan gurunya). Gambar anak dapat mencerminkan karakter anak. Apa yang digambarakan merupakan hasil apa yang dilihat kemudian dirasakan. Apa yang digambar bukan hanya yang sedang ia pikirkan, melainkan apa yang dilihat dengan perasaan yang diasosiasikan. Anak dapat meniru  alam, mengubah, mengurangi  atau menghilangkan sebagian objek yang digambarkannya.
            Berdasarkan hasil karya gambar yang diciptakan anak, kita sebagai guru akan  mengetahui  cara  ungkapan  seni  rupa  yang  berbeda. Perbedaan ini  terletak pada  hasil  karya yang  dihasilkan. Ada gambar yang naturalis, ada gambar  anak yang bertipe ekspresif, ada gambar yang bertipe dekoratif dan sebagainya. Selain itu perbedaan karakter tipologi gambar anak terletak pada tingkat usia anak. Dalam  In  Education  Through  Art, Read  (1958:  140)  mengklasifikasikan gambar anak-anak menjadi 12, yaitu: Organic, Lyrical, Impresionist,  Rhytmical Pattern,  Structur  Form,  Shematic,  Haptic,  Expresionist,  enumeratif,  Decorative, Romantic, dan Literari. Sementara itu, Victor Lowenfield (1975: 275) membagi karya anak dalam proses berekspresi  menghasilkan  karya dibagi  menjadi  tipe “visual’ dan “haptic”.
1. Organic
Berkaitan serta bersimpati dengan objek-objek nyata, anak-anak lebih  suka objek dalam kelompok daripada yang sendiri. Tipe ini juga mengenal proporsi yang  wajar  dan  hubungan  organis  yang  wajar  pula,  misalnya  pohon  yang menjulang di  atas tanah, gambar manusia dan hewan bergerak sesuai dengan bentuk aslinya
2. Lyrical
Penggambaran objek bersifat realistis, tetapi tidak bergerak seperti  organic. Objek yang digambarkan statis dengan warna-warna yang tidak  mencolok. Biasanya digambarkan oleh anak perempuan.
3. Impresionist
Lebih mementingkan detail/kesan suasana yang digambarkan daripada konsep keseluruhan
4. Rhytmical Pattern
Gambar memperlihatkan benda-benda yang dilihat, Contohnya gambar anak yang  melempar bola,  kemudian  mengulang  gambar  tersebut  sampai bidang gambar terisi seluruhnya. Sifatnya bisa organis atau lyris.
5. Structur Form
Tipe  ini  jarang ditemui pada  gambar anak. Objeknya  mengikuti  rumus ilmu bangunan  yang  diperkecil  menjadi  satu  rumusan  geometris  dimana  rumus yang aslinya diambil dari pengamatan
6. Schematic
Penggambar  menggunakan rumus  ilmu  bangunan  tanpa ada  hubungan  yang jelas  dengan  susunan  organis.  Skema dari objek semula disempurnakan menjadi satu disain yang ada hubungan dengan objek secara simbolis.
7. Haptic
Gambar yang dibuat mewakili image-image hasil rabaan dan sensasi fisik dari dalam. Gambar-gambar yang  dibuat  didak  berdasarkan  pengamatan  visual suatu objek, tapi bukan skematik.
8. Expresionist
Berhubungan dengan dunia dalam dirinya. Tidak hanya  mengekspresikan sensasi egosentrik tetapi juga objek dunia dari luar seperti hutan, gerombolan orang, dan lain-lain
9. Enumeratif
Penggambar  pada  tipe  ini  dikuasai  oleh  objek  dan  tidak  dapat menghubungkan  dengan  sensasi  keutuhan  sehingga  semua  bagian-bagian kecil  yang  dapat  dilihatnya  pada  bidang  gambar  tanpa  ada  yang  dilebih-lebihkan  Persepsi  gambar  bukan  merupakan  persepsi  seniman  melainkan persepsi arsitek
10. Decorative
Menampilkan bentuk-bentuk  dua dimensi dengan pola-pola warna-warni dan mengusahakannya  menjadi  pola  yang  menggembirakan.Bentuk-bentuk narural  diekspresikan    sehingga  timbul  perasaan  senang,  melankolis,  dan sebagainya. Dengan demikian anak yang menggambar menghasilkan gambar dan memanfaatkan warna untuk menghasilkan pola-pola yang riang.
11. Romantic
Pada  tipe  ini  tema  diambil  dari  kehidupan  yang  dipertajam  dengan  fantasi. Gambar merupakan gabungan  antara  ingatan dengan  image eidetic  sehingga menyangkut sesuatu yang baru
12. Literary
Tema  yang  ditampilkan  semata-mata  khayal  yang  berasal  dari  raasa  yang disarankan  gurunya  atau  imajinasi  sendiri.  Tema ini merupakan  gabungan antara ingatan dan imajinasi untuk disampaikan kepada orang lain.

Sementara itu, penggolongan karya gambar anak menurut Victor Lowenfeld, terbagi menjadi:
1. Tipe Visual
Tipe visual adalah gambar anak yang menunjukkan kecenderungan bentuk yang  lebih  visual-realistis  (memperlihatkan  kemiripan  bentuk  gambar  sesuai obyek yang dilihatnya, atau obyektif). Gambar yang diungkapkan mementingkan kesamaannya karya dengan bentuk yang diahayatinya  serta  memperhitungkan proporsinya secara tepat. Penguasan ruang telah terasa dengan cara membuat kecil objek gambar bagi benda yang jauh. Begitun pula penguasaan warna, pemakaian warna sesuai dengan warna-warna pada bendanya. Batas-batas tertentu gambar atau  lukisan  anak  yang tergolong tipe  visual dapat  dipersamakan  dengan  lukisan  karya  pelukis  naturalistis,  yang  membuat lukisannya  sangat  teliti,  karena ingin menggambarkan keadaan sebagaimana kelihatannya (dari pengalaman visual)

2. Bertipe Haptik
Gambar  anak  yang memiliki  tipe haptik menunjukkan kecenderungan  ke arah  kebentukan  yang  lebih  visual-emosional  atau  upaya  penggambaran  secara subyektif  yang  berisi  tentang  ekspresi  pribadi  dalam  merespon  lingkungannya. Benda  yang  digambarkam  merupakan  reaksi  emosional  melalui  perabaan  dan penghayatannya  di  luar  pengamatan  visual.  Biasanya  benda  yang  dianggap penting  digambarkan  lebih  penting  dibuat  dengan  ukuran  lebih  besar dibandingkan dengan benda yang kurang penting. Dalam  gaya  lukisan,  gambar  anak  yang  bertipe  haptik  dapat  disamakan dengan  lukisan  bergaya  ekspresionisme.  Lukisan  ekspresionisme  adalah  karya lukis yang memperlihatkan ungkapan rasa secara spontan, dan sebagai pernyataan obyektif  dari  dalam  diri  pelukisnya  ( inner  states) . Lukisan yang bersifat ekspresionistis nampak berkesan sangat subyektif dari kebebasan pribadi masing-masing pelukisnya.

Berdasarkan  hasil  penelitian  yang  Lowenfeld  (1959:  259)  menunjukan bahwa 47% bertipe  visual, 23  % bertipe haptik,  dan  30% tidak  teridentifikasi. Silahkan Anda amati hasil karya gambar siswa Anda!

D. Sifat Lukisan/Gambar Anak
Gambar anak memiliki keunikan dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini  terjadi  karena  anak-anak  masih  memiliki  keaslian  dalam  tata  ungkapan emosinya  dalam bentuk gambar  atau karya. Secara khusus, berikut ini disarikan berdasarkan  pendapat  Soesatyo  (1994:  32  –33)  bahwa  sifat  lukisan  (gambar)  anak-anak sebagai berikut:
1. Ideographisme. 
Lukisan  anak  merupakan  ekspresi  berdasar  pengertian  dan  logika  anak, contoh: anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, tetapi berdasarkan pengertian anak bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu disamping.
2. Steorotif atau otomatisme.
Ciri  gambar  anak  yang  kedua  adalah  ditemukannya  gejala  umum penggambaran  bentuk  benda  secara  berulang-ulang  dengan  ukuran  yang monoton.  Gejala ini dinamakan stereotipe. Misalnya figure manusia yang diulang  dalam  bentuk  yang  sama  meski  warnanya  berbeda- beda. Atau bunga-bunga yang sama diulang-ulang. Bahkan sampai pada tema yang terus diulang-ulang.
3. Gejala finalitas
Sungguh unik bila kita cermati dan amati gambar anak, anak menggambarkan peristiwa yang mengandung  unsur  ruang  dan  waktu.  Biasanya anak melukiskan manusia atau mahluk lainnya dalam gerak.  Penggambaran suatu peristiwa yang sedang terjadi divisualisasikan dengan membuat objek gambar yang diulang-ulang. Namun  tidak  semua  bagian  atau  anggota  badan  dilukis,  hanya  yang  perlu-perlu saja atau yang dirasakan penting dalam tema lukisan. Misalnya ibu yang sedang  menyapu,  dilukis  hanya  satu  tangan  saja  yang  memegang  sapu  itu, sedang  tangan  yang  satu  yang  tidak  berperan  tidak  dilukis. Atau tangan yang lebih berperan dilukis lebih besar dan lebih mendapat tekanan.
4.    Perebahan atau lipatan
Sifat  ini  merupakan  peristiwa  yang  lucu  namun  logis  buat  anak-anak. Disebut juga sifat tegak lurus atau sifat rabatemen. Benda apa saja yang berdiri tegak pada suatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar  tersebut  meskipun  garis  dasar  itu  berbelok  atau  miring  arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.
5. Transparan
Kebiasaan  dan kecenderuangan  anak menggambarkan  hal-hal  atau  peristiwa pada  ciri  ke  tiga  ini  adalah  penggambaran  yang  tembus  pandang.  Sebagai contoh  bila  anak  melihat  kucing  makan  ikan,  kemudian  kita  suruh  anak  itu untuk menggambarkan kucing, maka anak biasanya akan menggambar kucing dengan perut yang kelihatan ada ikannya. Pada  usia  tertentu  kita  dapat  menjumpai  lukisan  anak  dengan  sifat  tembus pandang. Anak cenderung melukiskan semua yang ia pikirkan dn ia mengerti meskipun ada beberapa benda objek yang berada di dalam ruang atau tempat tertutup. Akibatnya adalah  peristiwa  tembus  pandang  atau  sinar  X (x–ray). Contoh:  ibu  dan  bapak  duduk  di  dalam  rumah  dan  tertutup  dinding, namun dilukis  lengkap  dengan  benda  dan  perabot  lain. Kucing makan tikus.  Tikus yang di dalam perut kucing  dilukis juga.  Sabagai  bahan perbandingan lihat  Gambar 3.5.
Satu nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan karakterisrik gambar ini adalah kejujuran  dan  kepolosan  jiwa anak. Tentunya hal ini berbeda dengan orang dewasa yang penuh dengan kepura-puraan. 
6. Juxtaposisi.
Sifat Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh dekat) dalam  bidang  datar, diatasi dengan  dasar pemikiran  praktis. Anak melukis benda atau objek yang jauh di bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian bawah. Bertebar namun artistic, mirip lukisan Bali.
7. Simetris (setangkep)
            Dalam melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan, dua buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengan daun kiri dan di kanan, dan sebagainya.
8. Proporsi (perbandingan ukuran)
Anak- anak lebih  mementingkan  proporsi  nilai  dari  pada  fisik. Hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.
9. Lukisan bersifat cerita (naratif)
Lukisan/gambar yang dibuat anak merupakan ungkapan perasaan atau gejolak jiwa. Jadi lukisan adalah cerita anak, bukan sekedar mencoret sebagai aktivitas motoric atau gerak anatomis saja. Maka perlu ditanggapi  secara  wajar  dan dalam sikap menerima serta mengahargai.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Tahap  perkembangan  menurut  Viktor  Lowenfeld  dan  Lambert  Brittain (1970)  dalam Creative  and  Mental Growth  membagi periodisasi  perkembangan seni rupa anak sebagai berikut:
1.      Masa Coreng-Moreng (Scribbling Period)
2.      Masa PraBagan (Pre Schematic Period)
3.      Masa Bagan (Schematic Period)
4.      Masa Realisme Awal  ( Early Realism)
5.      Masa Naturalisme Semu
6.      Periode Penentuan
Dalam In Education Through Art, Read (1958:  140) mengklasifikasikan gambar anak-anak menjadi 12, yaitu: Organic, Lyrical, Impresionist,  Rhytmical Pattern,  Structur  Form,  Shematic,  Haptic,  Expresionist,  enumeratif,  Decorative, Romantic, dan Literari. Sementara itu, Victor Lowenfield (1975: 275) membagi karya anak dalam proses berekspresi menghasilkan karya dibagi  menjadi  tipe “visual’ dan “haptic”.
Secara khusus, berikut ini disarikan berdasarkan pendapat Soesatyo  (1994:32 –33)  bahwa  sifat  lukisan  (gambar) anak-anak sebagai berikut:
1.      Ideographisme. 
2.      Steorotif atau otomatisme.
3.      Gejala finalitas
4.      Perebahan atau lipatan
5.      Transparan
6.      Juxtaposisi.
7.      Simetris (setangkep)
8.      Proporsi (perbandingan ukuran)
9.      Lukisan bersifat cerita (naratif)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar