Kamis, 09 Mei 2013

Teknik Pengumpulan data dalam PTK


BAB I
PENDAHULUAN
Kita telah menyelesaikan beberapa pembahasan materi berkaitan dengan PTK,
mengerjakan latihan dan menyelesaikan tes formatif sebagaimana dibahas pada
unit-unit sebelumnya. Dengan memahami materi dan langkah-langkah penyusunan proposal PTK yang dipaparkan pada unit sebelumnya, Kita telah memiliki kerangka acuan dalam pelaksanaan PTK. Pada unit ini Kita diajak untuk mengkaji lebih mendalam salah satu komponen penting di dalam proposal yang Kita susun yaitu tentang pengumpulan data dalam PTK. Untuk dapat melakukan kegiatan pengumpulan data dengan baik, Kita terlebih dahulu perlu memahami jenis-jenis data, jenis-jenis alat pengumpulan data dan cara pengumpulan data. Sesuai dengan judul unit ini, maka pembahasan yang lebih rinci dijabarkan ke dalam dua subunit yang saling terkait, yaitu jenis-jenis data dalam penelitian, jenis-jenis alat pengumpulan data baik melalui teknik tes maupun teknik-teknik non tes. Untuk teknik non tes pembahasan lebih difokuskan pada penggunaan observasi dan wawancara. Melalui pembahasan, latihan-latihan, diskusi yang dilakukan serta
menyelesaikan tes formatif yang disediakan Kita diharapkan dapat menjelaskan secara rinci tentang:
1. Jenis-jenis data dalam penelitian;
2. Teknik tes untuk pengumpulan data;
3. Teknik non tes untuk pengumpulan data.
Untuk membantu mendalami uraian ini diharapkan Kita melakukan latihanlatihan sendiri dan diskusi dengan rekan-rekan Kita, terutama dalam mengkaji bagian-bagian yang sulit Kita pahami. Kita juga dapat melakukan simulasi pengumpulan data bersamaan dengan penyelenggaraan proses pembelajaran yang
Kita lakukan, sehingga Kita terlatih melakukan pengumpulan data ketika PTK  dilaksanakan. Untuk membantu memperdalam materi serta mengukur pemahaman Kita dari materi yang dibahas maka pada bagian akhir tiap-tiap subunit disediakan tes formatif. Kesungguhan Kita di dalam menyelesaian tes tersebut akan sangat membantu untuk mengukur penguasaan materi ini.


BAB II
PEMBAHASAN
Subunit 1
Jenis Data dan Penggunaan Teknik Tes untuk Pengumpulan Data

Pembahasan pada subunit ini difokuskan pada jenis-jenis data dan penggunaan teknik-teknik tes dalam pengumpulan data. Langkah-langkah yang diuraikan dalam subunit ini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dengan langkahlangkah yang telah Kita kaji pada unit sebelumnya dan sub-sub unit berikutnya.
Pengkajian yang terdiri dari jenis-jenis data dan teknik pengumpulan data melalui teknik-teknik tes akan mengarahkan Kita pada pemahaman yang mantap tentang langkah-langkah PTK sebagai satu kesatuan yang utuh. Pemahaman ini akan memandu Kita untuk mampu melaksanakan PTK yang akan dilengkapi pada
pembahasan di unit-unit berikutnya. Setelah menyelesaikan subunit ini diharapkan Kita dapat menjelaskan dan merinci jenis-jenis data dan cara-cara pengumpulan data melalui beberapa teknik tes.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kajilah materi berikut dengan cermat, serta kerjakan latihan secara disiplin. Sebagaimana unit-unit sebelumnya, dalam bagian ini Kita juga dituntut untuk menggali pengalaman praktis Kita, sehingga sajian yang bersifat teoritik dapat Kita padukan langsung dengan praktik pembelajaran yang Kita lakukan. Oleh sebab itu Kita diharapkan dapat mengkaji secara seksama subunit ini,mengerjakan latihan-latihan yang disediakan serta menyelesaikan tes formatif pada bagian akhir subunit ini.

A. Jenis-jenis Data dalam Penelitian
Dalam kegiatan pembelajaran yang Kita lakukan sehari-hari, sesungguhnya
Kita berhadapan dengan data. Hampir tidak ada aktivitas atau langkah pembelajaran yang tidak terkait dengan data. Ketika Kita memberikan pertanyaan kepada siswa, tentu Kita ingin mengetahui apakah siswa tersebut mendengar dan memahami apa yang Kita jelaskan bukan? Atau Kita ingin mengetahui tingkat keaktifan siswa tersebut. Ketika Kita memberikan soal-soal latihan, memberikan pekerjaan rumah, melakukan ulangan mewawancarai siswa, mengamati aktivitas praktikum dan sebagainya, semuanya bertujuan untuk memperoleh data. Di dalam kegiatan penelitian, keberadaan data merupakan komponen yang sangat penting, karena seperti apapun penelitian yang dirancang oleh peneliti tujuannya adalah untuk memperoleh data. Jika kita kaji dan kita pilah secara cermat, maka kita akan menemukan beberapa jenis data. Kerlinger (1993) mengemukakan bahwa pemahaman terhadap jenis data dalam penelitian akan mengarahkan seorang peneliti untuk memilih instrumen yang cocok dengan data yang diinginkannya tersebut. Menurut jenisnya data dalam penelitian dikelompokkan dalam 4 jenis, yaitu data nominal, data ordinal, data interval, dan data ratio (Kerlinger, 1993). Berikut mari kita cermati penjelasan dan contoh dari masing-masing jenis data tersebut.
1. Data nominal
Data nominal adalah suatu data yang hanya terpilah menjadi dua bagian atau
dua pilihan, atau dua kategori dimana yang satu dengan lainnya terpisah secara tegas
(Kerlinger, 1993; Babbie, 1986; Gay, 1981).
Contoh jenis data nominal:
• Laki-laki Perempuan
• Tua Muda
• Kota Desa
• Ya Tidak
• Siang Malam
• Sekolah Tidak sekolah
• Kaya Miskin
• Lulus Tidak lulus
dan seterusnya.
2. Data ordinal
Data ordinal ialah suatu data yang menunjukkan urutan dalam kedudukan
masing-masing data/data urutan peringkat/jenjang yang tidak menunjukkan kuantitas
absolut (Kerlinger, 1993).
Contoh data ordinal:
• Peringkat kejuaraan.
• Urutan angka 1, 2, 3, 4, dan seterusnya.
• Jenjang pendidikan.
• Pemeluk agama/keyakinan.
• Kelompok etnik/suku.
• Jenis kendaraan.
• Kelompok makanan.
• Jenis pekerjaan, dll.

3. Data interval
Data interval adalah suatu data yang menunjukkan jarak yang memiliki ciri
nominal dan ordinal. Di samping itu jarak keangkaan yang sama pada skala interval
mewakili jarak yang sama pula dalam hal pemilikan sifat yang diukur.
Contoh data interval:
a b c d e
1 2 3 4 5
a/1 = Tidak pernah Sangat tidak setuju
b/2 = Hampir tidak pernah Tidak setuju
c/3 = Pernah Ragu-ragu
d/4 = Kadang-kadang Setuju
e/5 = Selalu Sangat setuju
4. Data ratio
Data ratio/nisbat ialah data pengukuran yang sangat tinggi, yang mempunyai ciri-ciri skala nominal, ordinal, dan interval, dan juga memiliki nol mutlak atau nol natural yang mengandung makna empirik. Jika suatu pengukuran menggunakan nol pada suatu skala rasio, maka dapat dikatakan bahwa obyek tertentu tidak memiliki sifat yang sedang diukur. Angka-angka pada skala rasio menunjukan besaran sesungguhnya pada sifat yang diukur. Untuk ilmu sosial jarang sekali menggunakan skala rasio.
Contoh data skala rasio
Skor 8 mempunyai prestasi 2 x lebih baik dari yang mendapatkan skor 4 dalam suatu mata pelajaran (Kerlinger, 1993). Sampai di sini Kita telah mengkaji penggolongan data menurut jenisnya.
Coba Kita kelompokkan data dalam proses pembelajaran Kita sesuai dengan pengelompokan di atas!
B. Teknik Pengumpulan Data Melalui Tes
Untuk memperoleh data di dalam kegiatan penelitian, seorang peneliti dapat
menggunakan berbagai teknik. Penggunaan dari salah satu atau beberapa teknik pengumpulan data sangat tergantung pada jenis data yang akan dikumpulkan, tujuan penelitian dan tentu saja pemahaman peneliti tentang teknik yang akan dipergunakan tersebut serta kemampuannya untuk melaksanakan penelitian dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait. Sebagai contoh, seorang peneliti melakukan penelitian tentang motivasi dan hasil belajar siswa pada beberapa sekolah yang telah ditentukannya. Terkait dengan penelitian tersebut seorang peneliti terlebih dahulu menjelaskan jenis data yang akan dikumpulkan. Untuk mengkaji motivasi siswa, misalnya guru dapat menggunakan beberapa teknik yang dapat dipilih, misalnya observasi, wawancara, atau kuesioner. Untuk menghimpun data tentang hasil belajar siswa, dapat dipergunakan tes yang dibuat peneliti sendiri, peneliti bersama guru, atau menggunakan instrumen tes yang stkitar. Di samping menggunakan tes, juga dapat mengkaji hasil-hasil belajar, hasil-hasil ulangan siswa yang lebih dikenal dengan teknik studi dokumenter. Dalam pelaksanaan tugas Kita sehari-hari, pelaksanaan tes sebagai cara memahami kemampuan siswa tentu sudah sangat tidak asing bagi Kita. Namun
untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan menambah wawasan
Kita tentang cara-cara pengumpulan data melalui tes, maka bagian ini perlu kita kaji bersama dengan lebih cermat. Teknik tes atau kadang-kadang juga disebut sistem testing merupakan usaha untuk memahami atau memperoleh data tentang siswa. Dalam pkitangan lain juga dikemukakan bahwa tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu, dan menggambarkan atau mendeskripsikan tingkah laku itu melalui skala angka atau sistem kategori. Nurkancana dan Sumartana (1986: 25) mendefinisikan tes sebagai suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai stkitar yang ditetapkan. Jika defenisi ini dianalisis, maka kita menemukan beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan yaitu:
1. Tes adalah suatu bentuk tugas yang terdiri dari sejumlah pertanyaan atau
perintah-perintah.
2. Tes diberikan kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk dikerjakan.
3. Bahwa respon atau jawaban anak atau kelompok anak tersebut dinilai.
Penggunaan teknik tes, khususnya tes prestasi belajar bagi guru di sekolah
bertujuan untuk:
a. Menilai kemampuan belajar murid.
b. Memberikan bimbingan belajar kepada murid.
c. Mengecek kemajuan belajar.
d. Memahami kesulitan-kesulitan belajar.
e. Memperbaiki teknik mengajar.
f. Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar.
Arikunto (1988), mengemukakan bahwa tes sebagai instrumen pengumpulan
data dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun oleh guru dengan prosedur tertentu, akan
tetapi belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri
dan kebaikannya.
2. Tes stkitar (stkitardized tes), yaitu tes yang biasanya sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin keampuhannya. Tes ini sudah mengalami uji coba berkali-kali, direvisi berkali-kali sehingga sudah dapat dikatakan cukup baik. Di dalam setiap tes yang terstkitar, sudah dicantumkan petunjuk pelaksanaan,
waktu yang dibutuhkan, bahan yang tercakup, dan hal-hal lain, misalnya validitas
dan reabilitas tes. Dalam pembahasan tentang bentuk-bentuk tes, Gall & Borg (2002: 209) mengemukakan terdapat beberapa bentuk tes performance, yaitu; (a) intelligence tests atau tes intelegensi, (b) aptitude tests atau tes sikap, (c) achievement tests atau tes hasil belajar, (d) diagnostic tests atau tes diagnostik, dan performance assessment atau penilaian kinerja.
Di antara bentuk tes yang paling sering dipergunakan guru adalah tes hasil
belajar. Jika dilihat dari beberapa dimensi atau sudut pkitangan, tes hasil belajar
sebagai salah satu bentuk yang diarahkan untuk mengetahui hasil atau prestasi
belajar siswa dibedakan atas beberapa jenis. Berdasarkan jumlah atau pengikut tes, maka tes hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu tes individual dan tes kelompok (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 25). Tes individual adalah suatu tes dimana pada saat tes tersebut diberikan kita hanya menghadapi satu orang anak. Sedangkan tes kelompok, yaitu dimana pada saat tes diberikan, kita menghadapi sekelompok anak. Tes hasil belajar disamping dapat dikaji dari jumlah atau pengikut tes sebagaimana dikemukakan di atas, juga dapat ditinjau dari segi penyusunannya. Dilihat dari segi penyusunannya tes dibedakan atas tiga jenis, yaitu tes buatan guru, tes buatan orang lain yang tidak distkitarisasi, dan tes stkitar atau tes yang sudah distkitarisasi.
a. Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan
mempergunakan tes tersebut.
b. Tes buatan orang lain yang tidak distkitarisasi, adalah tes yang dibuat orang lain yang dianggap cukup baik yang dapat dipergunakan oleh guru. Tes jenis ini
misalnya tes yang disusun oleh teman-teman sejawat guru yang lebih berpengalaman, atau tes yang dimuat pada akhir tiap-tiap bab dari buku pelajaran.
c. Tes stkitar atau tes yang telah distkitarisasi, yaitu tes yang telah cukup valid
dan reliabel berdasarkan atas uji coba berkali-kali terhadap sampel yang cukup
luas dan representatif.
Selain dari sudut pkitang di atas, jenis tes hasil belajar juga dapat dikaji dari bentuk jawaban atau bentuk respon. Berdasarkan bentuk jawaban atau bentuk respon ini, tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Tes tindakan, yaitu suatu tes dimana jawaban atau respon yang diminta dari anak berbentuk tingkah laku. Jadi anak berbuat sesuai dengan perintah atau pertanyaan yang diberikan. Misalnya dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, untuk mengetahui apakah seorang anak sudah dapat berenang dengan gaya tertentu, maka cara yang paling baik adalah menyuruh anak tersebut
mempraktekkan langsung cara berenang yang dikehendaki. Jika anak dapat melakukan sesuai dengan kriteria yang ditentukan guru, maka berarti anak tersebut telah menguasai tes yang diberikan dalam bentuk tindakan tersebut.
b. Tes verbal, yaitu suatu tes, dimana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak-anak berbentuk bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Dalam keadaan ini, anak akan mengucapkan atau menulis jawabannya sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan.
Selain ditinjau dari bentuk jawaban atau respon yang diberikan, tes juga dapat dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan oleh guru. Bentuk tes ini tentu sudah sangat sering Kita terapkan didalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Jenis tes ini dibedakan menjadi dua, yaitu tes obyektif dan tes essay.
1. Tes obyektif
Tes obyektif adalah bentuk tes yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban dengan beberapa perkataan atau simbul tertentu. Ada beberapa bentuk tes obyektif, yaitu:
a. Tes benar salah (true-false), adalah tes yang butir-butir soalnya mengharuskan agar siswa mempertimbangkan suatu pernyataan sebagai pernyataan yang benar atau salah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam penyusunan tes obyektif bentuk benar-salah ini:
- Meyakinkan sepenuhnya bahwa butir soal tersebut dapat dipastikan benar atau salah.
- Jangan menulis butir soal yang memindahkan satu kalimat secara harfiah dari
\ teks.
- Jangan menulis butir soal yang memperdayakan.
- Menghindari pernyataan negatif.
- Menghindari pernyataan berarti gkita.
- Menggunakan suatu bentuk yang tepat.
- Menghindari kata-kata kunci, seperti pada umumnya, semua, dan yang lain.
- Menghindari jawaban benar yang terpola.
b. Tes pilihan gkita (multiple choice), adalah suatu item yang terdiri dari suatu
statemen yang belum lengkap. Untuk melengkapi statemen tersebut disediakan
beberapa statemen sambungan. Satu diantaranya merupakan sambungan yang
benar sedangkan yang lain adalah sambungan yang tidak benar (Nurkancana dan
Sumartana, 1986; Dimyati dan Mudjiono, 1994). Item multiple choice ini dapat
pula berupa suatu pertanyaan yang telah disediakan beberapa buah jawaban,
dimana hanya satu dari jawaban-jawaban yang disediakan tersebut merupakan
jawaban yang benar. Alternatif pilihan yang disediakan disebut “option”, sedangkan. Jawaban-jawaban atau statemen sambungan yang tidak benar disebut
pengecoh. Bloom, 1981 (Dimyati dan Mudjiono, 2004: 200) mengingatkan
beberapa kaidah yang harus diperhatikan didalam penyusunan soal pilihan gkita.
- Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara
jelas.
- Perumusan pokok soal dan alternatif jawaban hendaknya merupakan
pernyataan yang diperlukan saja.
- Untuk satu soal, hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
- Sedapat mungkin dihindarkan perumusan pernyataan yang bersifat negatif
pada pokok soal.
- Alternatif jawaban (option) sebaiknya logis, dan pengecoh harus berfungsi
(menarik).
- Diusahakan agar tidak ada petunjuk untuk jawaban yang benar.
- Diusahakan agar mencegah penggunaan pilhan jawaban yang terakhir
berbunyi “semua pilihan jawaban di atas benar”, atau “semua pilihan jawaban
di atas salah”. - Diusahakan agar pilihan jawaban homogen, baik dari segi isi maupun panjang
pendeknya pertanyaan.
Bloom, 1981 (Dimyati dan Mudjiono, 2004:200) mengingatkan beberapa kaidah yang harus di perhatikan didalam penyusunan soal pilihan gkita yaitu:
a.         Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara jelas.
b.        Perumusan pokok soal dan alternative jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c.         Untuk satu soal, hanya ada satu jawaban yang paling benar
d.        Hindari perumusan pernyataan yang bersifat negatif pada pokok soal.
e.         Alternatif jawaban (option) sebaiknya logis, dan pengecoh harus berfungsi (menarik).
f.          Usahakan agar tidak ada petunjuk untuk jawaban yang benar.
g.         Usahakan agar mencegah penggunaan pilihan jawaban yang terakhir berbunyi “semua pilihan jawaban di atas benar”, atau “semua pilihan jawaban di atas salah”.
h.         Usahakan agar pilihan jawaban homogen, baik dari segi isi maupun panjang pendeknya pertanyaan.
i.           Apabila pilihan jawaban berbentuk angka, susunlah secara berurutan dari angka yang terkecil diletakkan diatas sampai angka terbesar yang diletakkan di bawah.
j.          Dalam pokok soal, usahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bersifat titak tentu, seperti seringkali, kadang-kadang, pada umumnya dan kata-kata sejenis.
k.        Usahakan agar jawaban butir soal yang satu tidak bergantung dari jawaban butir soal yang lain.
l.           Dalam membuat soal, usahakan agar jawaban benar (yang menjadi kunci jawaban) letaknya tersebar antara a, b, c, d, atau ditentukan secara acak, seehingga tidak terjadi pola jawaban tertentu.

C.       Tes menjodohkan (maching) adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari dua kolom yang parallel, dimana masing-masing berisi uraian-uraian, keterangan-keterangan atau statemen. Dengan kata lain merupakan bentuk tes yang butir-butir soalnya terdiri dari satu daftar premis dan satu daftar jawaban yang sesuai.
(Dimyati dan Mudjiono, 2004; Nurkancana, 1986: 36) dalam penyusunan soal bentuk menjodohkan, ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan yaitu:
a.       Meyakinkan bahwa pertanyaan dapat dijawab engan kata atau penggalan kalimat yang mudah atau khusus, dan hanya ada satu jawaban yang benar.
b.      Menggunakan bentuk yang cocok.
c.       Jangan memutus-mutus butir soal melengkapi.
d.      Menghindari pemberian petunjuk kearah jawaban yang benar.
e.       Menunjukkan bagaimana seharusnya jawaban yang benar.
Tes obyektif sebagai salah satu teknik pengumpulan data memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihannya adalah:
a.       Dapat dijawab dengan cepat sehingga memungkinkan siswa menjawab sejumlah besar prtanyaan dalam satu periode tes.
b.      Reliabilitas skor yang diberikan yang diberikan terhadap pekerjaan siswa dapat lebih terjamin.
c.       Jawaban-jawaban tes obyektif dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat.
Kelemahan tes obyektif yaitu sebagai berikut:
a.       Kemungkinan siswa untuk menerka jawaban akan lebih besar
b.      Karena jumlah item pada tes obyektif pada umumnya lebih banyak, maka diperlukan biaya yang lebih besar.
2.        Tes Essay
Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk petanyaan yang mengharuskan siswa untuk menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan atau mencari perbedaan. Semua bentuk pertanyaan mengharuskan siswa untuk mampu menunjukkan pengertian atau pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 42).



Tes bentuk essay juga memiliki kebaikan dan kelemahan. Kebaikannya antara lain:
·           Tes essay sangat tepat dipergunakan untuk menilai atau mengukur hasil dari suatu proses belajar yang kompleks, yang sukar diukur dengan menggunakan tes obyektif.
·           Tes essay memberi peluang yang besar kepada siswa untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan pikirannya sendiri. Keadaan ini sangat penting untuk melatih siswa agar terbiasa mengemukakan jalan pikirannya secara terarah dan sistematis. 
Sedangkan beberapa kelemahan tes essay adalah:
·           Pemberian skor terhadap jawaban tes essay kurang reliabel terutama disebabkan karena tidak hanya satu jawaban yang biasa diterima. Di samping itu juga disebabkan tingkat kebenaran jawaban tersebut sangat bervariasi.
·           Tes essay menghendaki jawaban-jawaban yang relatif panjang. Karena itu dibutuhkan waktu yang lebih lama pula untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan, sehingga dalam satu periode tes hanya dapat diberikan beberapa item tes saja.
·           Materi yang diberikan di dalam tes tidak dapat mencakup secara luas materi pelajaran yang telah disampaikan, sehingga sangat dimungkinkan hasil yang dicapai bersifat kebetulan, karena pertanyaan yang diberikan secara kebetulan sesuai dengan bagian materi yang dipelajarinya.
·           Mengoreksi tes essay memerlukan waktu yang cukup lama, serta menghabiskan energi yang cukup banyak terlebih lagi bilamana peserta tes jumlahnya cukup besar, karena setiap jawaban harus dibaca satu persatu secara teliti. 
Untuk mengurangi beberapa kelemahan pada tes essay di atas, perlu diperhatikan beberapa saran berikut:
a.       Materi pelajaran yang akan diukur melalui tes essay perlu diperiksa terlebih dahulu. Bagian yang akan diukur melalui tes essay hendaknya hanya bagian-bagian yang kurang cocok jika diukur dengan tes obyekif.
b.      Item-item tes essay hendaknya dibuat dengan jelas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan siswa.
Untuk meningkatkan obyektivitas hasil tes ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
a)         Memberi kesempatan berlatih kepada tester (orang yang melaksanakan tes). 
b)        Menggunakan tester lebih dari satu orang, kemudian hasilnya dibandingkan.
c)         Melengkapi instrumen tes dengan manual atau pedoman pelaksanaan selengkap dan sejelas mungkin.
d)        Menciptakan situasi tes sedemikian rupa sehingga membantu tester (orang yang mengerjakan tes) tidak mudah terganggu oleh lingkungan.
e)         Memilih situasi tes sebaik-baiknya, misalnya bukan malam Minggu, bukan dalam keadaan udara yang sangat panas, bukan sehabis liburan panjang, menjelang ujian, dan sebagainya.
f)          Perlu menciptakan kerjasama yang baik dan rasa saling percaya antara tester yang satu dengan tester lainnya.
g)         Menentukan waktu untuk mengerjakan tes secara tepat, baik ketepatan pelaksanaan maupun lamanya.
h)         Memperoleh izin dari atasan jika tes tersebut dilaksanakan di sekolah atau di kantor-kantor.
Subunit  2
Penggunaan Teknik-teknik Non Tes untuk Pengumpulan Data PTK
A.       Pengamatan atau Observasi
Pelaksanaan tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi dan interpretasi, sehingga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan observasi/interpretasi berlangsung secara simultan. Artinya, data yang diamati tersebut langsung diinterpretasikan, tidak sekedar direkam. Misalnya, jika seorang siswa berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik, kemudian guru memberi pujian kepada siswa tersebut, yang direkam bukan hanya jenis pujian yang diberikan tetapi juga dampaknya bagi siswa yang mendapat pujian. Dampak ini dapat diinterpretasikan dari sikap dan partisipasi siswa dalam pembelajaran setelah mendapat pujian. Dengan cara ini, guru sebagai aktor utama dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian, sehingga komitmennya sebagai pengajar tidak terganggu oleh metode penelitian yang sedang diterapkan. jika ternyata pujian yang diberikan membuat siswa menjadi bahan ejekan, guru akan mengubah cara memberi penguatan. Namun perlu dicatat, tidak  semua data memerlukan interpretasi. Ada hasil pengamatan yang hanya merupakan rekaman faktual tanpa memerlukan interpretasi, sehingga pengamat cukup hanya merekam apa yang dilihat tanpa perlu memberi makna kepada hasil rekaman. sebagaimana yang dirujuk oleh Joni (1998), pengamatan ala Flanders yang hanya merekam data dalam tiga kategori yaitu: pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi (tanpa pembicaraan), tidak memerlukan interpretasi pada saat rekaman dilakukan. Inilah yang dinamakan “low-inference observation”, sedangkan pengamatan yang mempersyaratkan interpretasi atau penafsiran ketika merekam data disebut sebagai “high-inference observation”.
Pelaksanaan observasi sebagai alat pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan didalam persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman data. Artinya, apa yang harus direkam dan bagaimana merekamnya melalui observasi tersebut harus ditentukan secara jelas. Misalnya pada PTK yang dilaksanakan guru, data yang dikumpulkan adalah berkenaan dengan partisipasi siswa di  dalam kegiatan diskusi kelompok, maka terlebih dahulu guru menentukan cara merekam data, apakah akan menggunakan format observasi atau menggunakan catatan lapangan. idealnya observasi tersebut dilakukan oleh guru sendiri. Namun, jika observasi atau perekaman data tersebut terlalu menyita waktu guru dan mengakibatkan konsentrasi guru dalam mengajar terganggu, maka guru dapat menggunakan bantuan alat perekam atau meminta teman sejawat untuk membantu mengumpulkan data melalui observasi.
1.         Prinsip dan Jenis Observasi 
Secara sederhana, observasi dapat diartikan sebagai prosedur sistematis dan baku untuk memperoleh data (Kerlinger, 1993). Dalam pembahasan Cartwright and Cartwright (1998: 3), observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan keputusan-keputusan pengajaran. Terkait dengan proses pembelajaran dan pelaksanaan observasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru:
a.         Guru harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan didalam pencapaian tujuan pembelajaran.
b.        Guru harus memutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran  dan prosedur pembelajaran.
c.         Guru harus memutuskan bagaimana prosedur atau metode melaksanakan pembelajaran.
d.        Guru perlu memutuskan bahan yang dipergunakan dan bagaimana menyajikannya kepada siswa.
e.         Guru harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di kelas.
f.          Guru harus memutuskan cara mengorganisasikan waktu yang tersedia di dalam kegiatan pembelajaran.
g.         Guru harus memutuskan cara mengelompokkan siswa di dalam proses pembelajaran.
h.         Guru harus memutuskan cara menciptakan lingkungan kelas dengan baik.
i.           Guru harus menentukan kapan dan bilamana diperlukan  resourcher person 

1. Prinsip dan Jenis Observasi
            Secara sederhana, observasi dapat diartikan sebagai prosedur sistematis dan baku untuk memperoleh data (Kerlinger, 1993). Dalam pembahasan Cartwright and Cartwright (1998: 3), observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan keputusan-keputusan pengajaran. Terkait dengan proses pembelajaran dan pelaksanaan observasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru:
a.       Guru harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan didalam pencapaian tujuan pembelajaran.
b.      Guru harus memutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran.
c.       Guru harus memutuskan bagaimana prosedur atau metode melaksanakan pembelajaran.
d.      Guru perlu memutuskan bahan yang dipergunakan dan bagaimana menyajikannya kepada siswa.
e.       Guru harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di kelas.
f.        Guru harus memutuskan cara mengorganisasikan waktu yang tersedia di dalam kegiatan pembelajaran.
g.       Guru harus memutuskan cara mengelompokkan siswa di dalam proses pembelajaran.
h.       Guru harus memutuskan cara menciptakan lingkungan kelas dengan baik.
i.         Guru harus menentukan kapan dan bilamana diperlukan resourcher person untuk mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran.
Observasi yang baik mempunyai prinsip dasar atau karakteristik yang harus diperhatikan, baik oleh pengamat maupun yang diamati. Hopkins (1993) menyebutkan ada lima prinsip dasar atau karakteristik kunci observasi, yang secara singkat dapat dideskripsikan seperti berikut ini.
1)   Perencanaan Bersama
Meskipun di dalam PTK sagat disarankan agar guru dapat melakukan sendiri pengumpulan data, namun tidak tertutup kemungkinan guru tersebut membutuhkan bantuan orang lain bilamana hal itu memang benar-benar diperlukan. Perencanaan bersama adalah upaya membangun kesepakatan bersama antara guru yang melaksanakan tindakan dengan pengamat yang membantu proses pengamatan selama kegiatan pembelajaran dilakukan. Perencanaan bersama ini dilakukan terutama jika guru yang melaksanakan PTK membutuhkan bantuan orang lain, misalnya rekan-rekan sejawat yang akan membantu mengamati proses pembelajaran yang dilakukannya. Perencanaan bersama ini bertujuan untuk membangun rasa saling percaya dan menyepakati beberapa hal seperti fokus yang akan diamati, pelajaran yang akan berlangsung, serta aturan lain seperti berapa lama pengamatan akan berlangsung, bagaimana sikap pengamat kepada siswa, dan dimana pengamat akan duduk.
2)   Fokus
Fokus pengamatan merupakan aspek-aspek pokok yang menjadi sasaran utama pengamatan. Fokus pengamatan mungkin sangat luas atau umum, tetapi dapat pula sangat khusus atau spesifik. Fokus yang luas membutuhkan pertimbangan dan penafsiran yang lebih mendalam serta subyektivitas akan sulit dihindari. Di dalam menentukan aspek yang diamati, hal yang harus diingat peneliti adalah, semakin banyak objek yang diamati, akan semakin sulit, dan hasilnya akan semakin tidak teliti (Arikunto, 1998: 135). Karenanya diupayakan agar fokus tidak terlalu luas, karena fokus yang terlalu luas disamping sulit diamati, juga kurang bermanfaat bagi guru yang diamati. Sebaliknya, fokus yang sempit atau spesifik akan menghasilkan data yang sangat bermanfaat sebagai data dan informasi bagi guru yang melaksanakan PTK.
3)   Membangun Kriteria
Kriteria observasi adalah patokan yang ditetapkan untuk melihat tingkat keberhasilan observasi. Observasi akan sangat membantu guru, jika kriteria keberhasilan atau sasaran yang ingin dicapai sudah disepakati sebelumnya. Dengan kriteria seperti ini, pengamat dapat merekam data yang relevan secara cermat sesuai dengan aspek-aspek yang dikaji. Karena itu kesepakatan bersama tentang kriteria yang menjadi patokan ini merupakan bagian penting untuk mendukung terkumpulnya data yang diinginkan bersama antara pengamat dan guru yang melaksanakan PTK.
4)   Keterampilan Observasi
       Seorang pengamat yang baik memiliki tiga keterampilan, yaitu: (1) dapat menahan diri untuk tidak terlalu cepat memutuskan dalam menginterpretasikan suatu peristiwa; (2) dapat menciptakan suasana yang memberi dukungan dan menghindari terjadinya suasana yang dapat mengganggu iklim kelas, dan (3) menguasai berbagai teknik untuk menemukan peristiwa atau interaksi yang tepat untuk direkam, serta alat / instrumen perekam yang efektif untuk episode tertentu. Cartwright dan Cartwright (1998: 46) mengemukakan beberapa pertanyaan yang mengarahkan pada jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan observasi yang dilakukan, yaitu:
a)      Siapa yang merancang observasi.
b)      Siapa atau apa yang akan diamati. Pertanyaan ini berkenaan dengan pemahaman terhadap sasaran observasi, misalnya perilaku siswa, perilaku guru dalam mengajar, cara-cara menggunakan alat bantu pembelajaran, dan seterusnya.
c)       Dimana observasi dilakukan. Hal ini berkaitan dengan keharusan untuk memahami kondisi atau lingkungan tempat pelaksanaan kegiatan yang ingin diobservasi.
d)      Kapan waktu pelaksanaan observasi. Hal ini mengingatkan akan pentingnya kesesuaian waktu pelaksanaan dengan waktu pengamatan serta pemahaman tentang tahap-tahap kegiatan yang akan diamati.
e)      Bagaimana data dari kegiatan observasi itu akan direkam. Pertanyaan ini berkenaan dengan keharusan pengamat untuk terampil memilih dan menggunakan cara pengumpulan atau perekaman data.
5)        Balikan (Feedback)
Observasi yang dilakukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, mungkin balikan ini dapat segera dilakukan guru setelah melaksanakan tindakan atau proses pembelajaran. Sedangkan untuk kegiatan observasi yang dilakukan oleh pengamat, bukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, balikan hasil observasi dapat dimanfaatkan jika ada balikan yang tepat yang disajikan dengan memperhatikan secara cermat setiap langkah yang dilakukan. Perlu juga dipahami, bahwa observasi dilihat dari pelaksanaannya dapat dipahami dalam beberapa bentuk. Wardani (2004) mengemukakan beberapa bentuk observasi sebagai berikut.
v  Observasi Terbuka
Ciri yang dapat dilihat dari bentuk observasi terbuka adalah dimana pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan teknik - teknik tertentu untuk merekam fenomena-fenomena yang diselidiki. Jika ada seseorang yang melakukan pengamatan terhadap aktivitas Kita ketika mengajar di kelas, Kita dapat perhatikan. apakah pengamat tersebut menggunakan lembar observasi atau tidak dalam proses pencatatan yang dilakukannya. Jika tidak, maka pengamatan yang dilakukan terhadap Kita dapat dikategorikan sebagai observasi terbuka. Pengamat mengamati aktivitas dan kelas Kita kemudian membuat catatan pada kertas kosong tentang jalan pelajaran yang berlangsung.
v  Observasi Terfokus
Berbeda halnya dengan observasi terbuka, observasi terfokus secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya, mengamati kemampuan siswa bekerjasama dalam kegiatan diskusi, kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kemampuan melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam latihan tari. Fokus yang telah ditetapkan dalam kegiatan observasi menjadi petunjuk atau memberikan arah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
v  Observasi Terstruktur
Berbeda dengan observasi terbuka hanya menggunakan kertas kosong sebagai alat perekam data, observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tkita (v) pada tempat yang disediakan. Misalnya, yang direkam adalah frekuensi penguatan yang diberikan, atau jumlah pertanyaan yang diajukan, atau jumlah siswa yang menjawab secara sukarela, atau jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan. Pengamat hanya tinggal memberi tkita (v) setiap kali peristiwa itu muncul.
v  Observasi Sistematik
Observasi sistematik lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori data yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Contoh lain yang sudah dikenal amat luas adalah kategori pengamatan dari Flanders yang membagi data pengamatan menjadi tiga kategori, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi atau senyap.
Jenis observasi juga dapat dilihat dari intensitas peran observer didalam pelaksanaan observasi. McMillan & Schumecher (2000: 41), mengemukakan ketika guru melakukan pengumpulan data dan mendokumentasikan temuan-temuan penelitiannya secara sungguh-sungguh, kemudian ia menjelaskan dan menyimpulkan maka ia telah melakukan observasi partisipan.
Masing-masing jenis observasi tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Kita dapat mengkajinya secara cermat. Kerlinger (1986) mengingatkan bahwa masalah pokok dalam pengamatan perilaku adalah si pengamat sendiri karena ia merupakan bagian dari instrumen pengukur. Dalam pengamatan perilaku, pengamat merupakan kekuatan penentu akan tetapi juga merupakan kelemahan penentu. Karena itu pengamat harus dapat mencerna informasi yang didapatkan dari observasi kemudian membuat inferensi mengenai konstruk-konstruk. Coba Kita diskusikan kembali bentuk-bentuk observasi di atas, kemudian kaji dari sudut kemampuan Kita
dan kondisi sekolah tempat Kita mengajar untuk menemukan jenis observasi mana saja yang mungkin Kita pergunakan.
2. Tujuan/Sasaran Observasi
Milss (2000), menjelaskan bahwa observasi bertujuan mengamati aktivitas siswa, aspek-aspek fisik dari suatu situasi tertentu sebagai sumber informasi yang dapat memperkaya informasi-informasi yang lain. Observasi juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu. Dalam penelitian formal, observasi bertujuan mengumpulkan data yang valid dan variabel (sahih dan hkital). Data ini kemudian akan diolah untuk menjawab berbagai pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis. Dalam PTK, observasi terutama ditujukan untuk memantau proses dan dampak perbaikan yang direncanakan. Oleh karena itu, yang menjadi sasaran observasi dalam PTK adalah proses dan hasil atau dampak pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan perbaikan. Proses dan dampak yang teramati diinterpretasikan, selanjutnya digunakan untuk menata kembali langkah-langkah perbaikan.
3. Prosedur Observasi
Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah observasi terdiri dari tiga tahap, yaitu: pertemuan pendahuluan, observasi, dan diskusi balikan. Ketiga tahap ini sering disebut sebagai siklus pengamatan, yang populer dipakai dalam supervisi klinis, baik dalam pembimbing calon guru maupun dalam memberikan bantuan profesional bagi guru yang sudah bertugas. Siklus ini dapat digambarkan sebagai berikut. Mari kita kaji langkah-langkah tersebut satu persatu.
v Pertemuan Pendahuluan
Pertemuan pendahuluan yang sering disebut sebagai pertemuan perencanaan dilakukan sebelum observasi berlangsung. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menyepakati berbagai hal yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diamati dan observasi yang akan dilakukan, sebagaimana yang telah Kita kaji pada prinsip pertama observasi. Langkah-langkah dan konteks pembelajaran, fokus observasi, kriteria observasi, lama pengamatan, cara pengamatan, dan sebagainya dapat disepakati pada pertemuan pendahuluan ini. Fokus observasi misalnya siswa yang memberi respon secara sukarela, siswa yang mendapat penguatan, atau jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru, sedangkan contoh kriteria observasi adalah: peningkatan sumber belajar yang dipakai siswa, peningkatan jumlah pertanyaan yang diajukan siswa, peningkatan rasa puas pada diri siswa, dan peningkatan jumlah siswa yang menjawab dengan benar.
v Pelaksanaan Observasi
Sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan pendahuluan, observasi dilakukan terhadap proses dan hasil tindakan perbaikan, yang tentu saja terfokus pada prilaku mengajar guru, perilaku belajar siswa, dan interaksi antara guru dan siswa. Pengamat merekam/menginterpretasikan data sesuai dengan kesepakatan dan berusaha menciptakan suasana yang mendukung berlangsungnya proses perbaikan.
v Diskusi Balikan
Sesuai dengan prinsip pemberian balikan, pertemuan balikan dilakukan segera setelah tindakan perbaikan yang diamati berakhir. Makin cepat pertemuan ini dilakukan makin baik, dan sebaiknya diusahakan agar pertemuan ini tidak ditunda lebih dari 24 jam. Dalam pertemuan ini, guru dan pengamat berbagi informasi yang dikumpulkan selama pengamatan, mendiskusikan/ menginterpretasikan informasi tersebut, serta mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang siklus observasi tersebut, cobalah Kita simak contoh berikut ini. Kita akan dapat membayangkan situasi observasi dan hubungan antara guru dan pengamat. Agar ketiga tahap observasi ini dapat berlangsung secara efektif, Kita perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut, yang berkali-kali ditekankan oleh Hopkins (1993), Pertama, hubungan antara guru dan pengamat haruslah didasari saling percaya, sehingga pengamatan dapat berlangsung dalam iklim yang menyenangkan dan saling membantu. Kedua, fokus kegiatan pengamatan haruslah pada usaha perbaikan pembelajaran dan mendorong keberhasilan strategi yang diterapkan, bukan pada kegagalan atau kritik terhadap kepribadian/perilaku guru yang dianggap tidak sesuai. Ketiga proses didasarkan pada pengumpulan dan pemanfaatan data observasi, bukan pada keputusan atau pertimbangan yang tidak terkait dengan sasaran observasi. Keempat, guru hendaknya didorong untuk menarik kesimpulan tentang pembelajaran yang dikelolanya dari data yang dikumpulkan dan jika perlu membuat hipotesis yang dapat diuji pada pembelajaran yang akan datang. Kelima, setiap tahap dari tiga tahap ini merupakan proses yang berlanjut dan yang satu selalu bertumpu pada yang lain. Terakhir, guru dan pengamat bersamasama terlibat dalam proses pertumbuhan profesional yang saling menguntungkan. Kemampuan mengajar dan keterampilan mengobservasi akan meningkat dengan melaksanakan ketiga tahap observasi secara benar.


B. Wawancara
Untuk memperoleh data yang diperlukan atau data pendukung PTK, selain menggunakan observasi guru juga dapat melakukan wawancara, baik kepada siswa, rekan-rekan guru, staf sekolah lain atau mungkin kepada orang tua siswa. Secara sederhana, wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu (Moleong, 1991).  Wawancara mungkin merupakan alat yang paling purba dan paling sering digunakan manusia untuk memperoleh informasi (Kerlinger, 1993).
Wawancara memiliki sifat-sifat penting yang tidak dipunyai oleh tes-tes pada skala obyektif dan pengamatan  behavioral. Apabila digunakan dengan menggunakan rencana yang tersusun baik, maka wawancara dapat menghasilkan banyak informasi yang bersifat fleksibel dan dapat diadaptasi untuk situasi-situasi individual, serta seringkali dipergunakan bilamana tidak ada metode lain yang dimungkinkan atau memadai.  Wawancara dapat dipergunakan untuk tiga maksud utama.  Pertama, wawancara dapat dipergunakan sebagai alat eksplorasi untuk identifikasi varibel dan relasi, mengajukan hipotesis, dan memandu tahap-tahap lain di dalam penelitian. Kedua,  wawancara dapat menjadi instrumen  utama penelitian. Dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek yang diteliti dimasukkan ke dalam panduan wawancara dalam keadaan ini, pertanyaan-pertanyaan harus dipkitang sebagai butir-butir (item  soal) dalam suatu instrumen penelitian, bukan sekedar sebagai sarana menghimpun informasi belaka. Ketiga, wawancara itu dapat digunakan sebagai penopang atau pelengkap metode lain. Dalam keadaan ini wawancara dapat berfungsi untuk menggali lebih mendalam motivasi responden serta alasan-alasan responden memberikan jawaban dengan cara-cara tertentu.
Di dalam penelitian kualitatif,   wawancara (interview) oleh banyak kepustakaan dikemukakan di dalam berbagai terminologi, misalnya disebut intensive interviewing, indepth interviewing, ataupun   instructured interviewing,   yang berarti suatu percakapan yang terarah dengan tujuan mengumpulkan atau memperkaya informasi atau bahan-bahan (data) yang mendetil (kaya atau padat), yang hasil akhirnya untuk digunakan untuk analisis kualitatif (Mantja, 1993; McMillan & Schumacher, 2001). Perbedaan dengan wawancara terstruktur yang bertujuan untuk memperoleh pilihan di antara berbagai alternatif jawaban terhadap pertanyaan yangditampilkan dari sebuah topik atau situasi, adalah bahwa wawancara mendalam mendetil atau intensif berupaya menemukan pengalaman-pengalaman informan atau responden dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Dalam pkitangan Lofland and Lofland (1983), bahwa bagian terbesar dari data observasi peran serta pada dasarnya diperoleh melalui wawancara informal dan yang disempurnakan melalui observasi. Karena itu pengamatan peran serta dan wawancara mendalam merupakan teknik sentral dalam penelitian kualitatif. Oleh karena itu keduanya harus dipkitang dari penekanan penggunaannya dengan memperhatikan saling keterkaitannya.
1. Bentuk-bentuk Wawancara      
Ada beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan di dalam pengumpulan data penelitian. Patton (1987) mengemukakan beberapa bentukwawancara, yaitu; (a) wawancara pembicaraan formal, (b) pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka.
a. Wawancara pembicaraan informal
Ciri khusus dari wawancara jenis ini adalah dimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bergantung pada pewawancara itu sendiri, atau tergantung dari spontanitasnya didalam mengajukan pertanyaan. Wawancara ini dilakukan secara alami, sehingga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai terjadi didalam suasana yang wajar atau tidak dirancang atau dipersiapkan secara khsusus. Dalam proses wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang disampaikan sebagaimana layaknya pembicaraan biasa yang dilakukan dalam pembicaraan sehari-hari. Bahkan mungkin ketika wawancara dilakukan orang yang diwawancarai tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa dirinya sedang diwawancarai. Meskipun situasi berlangsung secara wajar dan alami, namun pewawancara tetap melakukan aktivitas pokok sebagai pewawacara yaitu melakukan pencatatan atau perekaman data. Karena itu diperlukan keterampilan yang memadai dan spesifik baik di dalam mengajukan item-item pertanyaan maupun didalam menciptakan situasi yang wajar dan alami tersebut. 
b. Pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara
Jika wawancara pembicaraan informal tidak memerlukan panduan khusus dan spesifik tentang aspek-aspek yang ingin diwawancarai, berbeda dengan teknik pewawancara yang kedua ini justeru mempersyaratkan agar pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Penyusunan pokok-pokok wawancara harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh pewawancara sebelum wawancara dilakukan. Petunjuk umum wawancara tidak harus selalu dibuat secara rinci, akan tetapi cukup memuat garis-garis besar aspek yang ingin ditanyakan. Petunjuk yang didasarkan pada anggapan bahwa ada jawaban yang secara umum akan sama diberikan oleh para responden, tetapi yang jelas tidak ada perangkat pertanyaan baku yang disiapkan terlebih dahulu. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden. Karena itu urutan-urutan pertanyaan tidak bersifat kaku, termasuk bagian-bagian mana yang terlebih dahulu ditanyakan atau diletakkan pada akhir.
c. Wawancara baku terbuka
Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku (Moleong, 1991: 136).  Pada jenis wawancara ini, urutan pertanyaan, kata-kata yang dipergunakan didalam daftar pertanyaan, urutan penyajian disusun sama untuk semua  responden yang diwawancarai. Tidak seperti bentuk pertama, kedua dan ketiga sebelumnya, pada bentuk ini, pewawancara tidak terlalu memiliki keluwesan mengadakan pertanyaan-pertanyaan pendalaman. Maksud dari adanya pembatasan-pembatasan di dalam wawancara ini adalah untuk mengurangi terjadinya “kemencengan” (biasa). Jenis
wawancara ini tepat dilakukan apabila pewawancara terdiri dari sejumlah orang dan yang diwawancarai cukup banyak jumlahnya, sehingga hasil-hasil atau data yang diperoleh tidak terlalu banyak perbedaan.
Khusus mengenai pedoman wawancara (Arikunto, 1998: 231) memaparkan dua macam pedoman wawancara.
a.  Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam keadaan ini sangat diperlukan kreativitas atau apresiasi pewawancara, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman wawancara lebih banyak tergantung pada pewawancara. Itulah sebabnya Kerlinger (1993), mengingatkan bahwa satu di antara kesulitan dalam wawancara adalah pewawancaranya, karena dia merupakan bagian dari instrumen pengukur. Wawancara tak terstruktur tepat dilakukan pada keadaan-keadan berikut:
-         Bila pewawancara berhubungan dengan orang-orang penting.
-         Jika pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam lagi kepada seorang subyek tertentu.
-         Apabila pewawancara menyelenggarakan kegiatan yang bersifat “penemuan” (discovery).
-         Jika ia tertarik untuk mempersoalkan bagian-bagian tertentu yang tidak umum.
-         Jika ia tertarik untuk mengadakan hubungan langsung dengan responden.
-         Apabila ia tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud, atau penjelasan dari responden.
-         Apabila ia mau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi, atau keadaan tertentu.  
b.  Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun
secara rinci sehingga peluang untuk mengadakan variasi atau improvisasi dalam pelaksanaan wawancara menjadi sangat terbatas. Panduan wawancara yang paling banyak dipergunakan menurut Arikunto (1998) adalah panduan wawancara “semi structured”. Dalam hal ini mula-mula interviewer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam untuk menggali keterangan-keterangan lebih lanjut.
Ketika Kita melaksanakan wawacara, Kita boleh mengembangkan berbagai bentuk pertanyaan yang dapat mengungkapkan informasi atau data yang Kita butuhkan. Ada beberapa jenis pertanyaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanyaan yang lazim dipergunakan dalam wawancara.
a.  Pertanyaan deskriptif (descriptive question), yaitu bentuk pertanyaan di mana pewawacara meminta responden untuk mendeskripsikan sesuatu. Misalnya, “Dapatkah Kita menceriterakan pertemuan yang baru Kita ikuti!” 
b.  Pertanyaan structural (structural question), adalah pertanyaan yang diarahkan untuk membantu peneliti bagaimana informan mengorganisasikan pengetahuannya. Misalnya: “Cara apa saja yang Kita gunakan untuk menyampaikan materi pelajaran?”. Atau, “Dapatkah Kita menjelaskan langkah-langkah yang ditempuh di dalam penerapan metode diskusi kelompok kecil?” 
c.  Pertanyaan pembeda atau mempertentangkan (contras question), adalah pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui makna sesuatu yang dikemukakan oleh informan terhadap berbagai terminologi di dalam bahasa penutur. Pertanyaan jenis ini menghendaki informan membedakan obyek dan peristiwa menurut pengalaman mereka, sehingga peneliti memperoleh wawasan dimensi makna yang digunakan informan untuk membedakannya. Pertanyaan ini misalnya: “Apakah perbedaan belajar anak cacat, anak normal dan anak luar biasa?” Contoh lain: “Apa perbedaan guru yang melaksanakan PTK dengan guru yang tidak melaksanakan PTK dilihat dari persiapan mengajar yang disusunnya?”
d.  Pertanyaan bergiliran (asymetrical turn talking), di mana informan dan pewawacara bergiliran didalam berbicara. Dalam bentuk ini pertama pewawancara menguraikan semua pertanyaannya terlebih dahulu, kemudian informan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut atau mengungkapkan sebagian besar pengalaman-pengalamannya.
e.  Perluasan daripada penyingkatan (expansion rather than abbreviation), di mana peneliti mendorong informan untuk memperluas (memperjelas) apa yang dikemukakannya untuk menghindari kurang rincinya topik yang diperoleh. Dalam proses wawancara ini peneliti sering mengingatkan informan agar tidak dilakukan secara singkat dan terburu-buru untuk mempercepat waktu penelitian.
f. Mengajukan pertanyaan bersahabat (asking friendly question). Selama proses wawancara antara peneliti dan informan berlangsung, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan didalam wawancara selalu diarahkan dalam rangka membangun hubungan yang akrab, saling menghargai dan penuh kehangatan (rapport), sehingga informan tidak lekas merasa jenuh apalagi merasa terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti.
g.  Berhenti sejenak (pausing). Dalam kenyataan di lapangan seringkali peneliti merasa khawatir bilamana aspek-aspek yang telah dirancang untuk ditanyakan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena terbatasnya waktu yang tersedia. Akhirnya tanpa disadari peneliti terus mengejar informan dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga suasana wawancara menjadi kurang kondusif. Sebaiknya pewawancara harus berhenti beberapa saat agar suasana keakraban dan  rapport yang telah terbina terpelihara dengan baik.       
B. Melaksanakan Wawancara
Di dalam pengumpulan data melalui wawancara, ada dua kegiatan yang sangat mendasar dan saling terkait, yaitu mengembangkan hubungan baik (rapport) dan mengejar perolehan informasi. Keduanya penting dan menuntut perhatian khusus peneliti. Dalam pengumpulan data, jangan sampai terjadi kegiatan yang satu mengorbankan kegiatan aspek lain. Misalnya, karena peneliti khawatir data yang akan dikumpulkan tidak lengkap, maka ia mengabaikan aspek-aspek yang berkenaan dengan pembinaan hubungan yang baik dengan informan dengan maksud agar waktu yang dipergunakan wawancara dapat dipergunakan secara efektif. Sebaliknya juga tidak boleh terjadi, lantaran sangat menaruh perhatian didalam pembinaan hubungan yang harmonis dengan informan, data yang dikumpulkan menjadi sangat sedikit dan tidak lengkap, karena waktu yang tersedia lebih banyak untuk melakukan sesuatu yang diarahkan untuk menciptakan hubungan baik tersebut.  Oleh sebab itu secara garis besarnya ada tiga kegiatan yang  berkaitan dengan pelaksanaan wawancara, yaitu: (1) memulai wawancara, (2) mengajukan pertanyaan pokok sekaligus perekaman data, dan (3) mengakhiri wawancara.
1.      Memulai Wawancara
Jika akan melakukan wawancara, sebaiknya yang terlebih dahulu dilakukan adalah meluangkan waktu sejenak untuk mengkaji kembali pedoman atau panduan wawancara yang telah dipersiapkan. Kegiatan ini bertujuan agar ketika wawancara telah mulai di laksanakan, butir-butir pertanyaan akan ditanyakan dengan lancar tanpa harus melihat berulang-ulang panduan tersebut, karena hal itu dapat mengganggu kelancaran wawancara yang sedang lakukan. Bahkan jika panduan wawacara sudah di persiapkan dengan baik dan telah memahami garis-garis besar pertanyaan dengan baik panduan tersebut tidak perlu dibaca kembali ketika mengajuan pertanyaan sehingga suasana wawancara akan terasa lebih rileks. Hal lain yang perlu diperhatikan kembali adalah kesiapan alat-alat yang akan dipergunakan didalam mendukung kelancaran wawancara, seperti buku catatan, alat-alat tulis, alat perekam data lainnya jika hal itu diperlukan. Kesiapan seperti ini nampaknya sederhana, akan tetapi akan sangat mengganggu bilamana peralatan tersebut tidak tersedia, sementara peralatan tersebut dibutuhkan ketika wawancara telah berlangsung. Ketika mengawali wawancara, hal penting yang perlu dilakukan adalah membina hubungan baik, saling menghargai dan saling percaya, sebagaimana sekilas telah kita bahas sebelumnya. Rapport tidak harus diartikan sebagai hubungan yang sangat rapat. Baik peneliti maupun informan adalah partisipan penelitian yang harus memiliki rasa saling percaya yang besar agar terjadi arus informasi yang lebih lancar dalam proses pengumpulan data. Pada tahap awal wawancara ini dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong terciptanya keakraban, keterbukaan dan suasana yang tidak formal. Jika hal ini telah dilakukan, kemudian lihat bahwa suasana telah mendukung untuk dimulainya wawancara, Wawancara dapat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang sederhana.

2.      Mengajukan pertanyaan
Dalam kaitan dengan butir pertanyaan yang diajukan, Kerlinger (1993):
a.      Apakah pertanyaan yang akan Kita ajukan berkaitan dengan masalah penelitian dan sasaran-sasaran penelitian? Selain pertanyaan-pertanyaan yang diajukan diarahkan untuk memperoleh informasi faktual, semua butir di dalam panduan wawancara harus mempunyai fungsi tertentu dalam masalah penelitiannya. Hal ini juga berarti bahwa semua butir pertanyaan yang terdapat di dalam panduan wawancara adalah untuk menggali informasi yang dapat dipergunakan untuk menjawab masalah penelitian dan atau menguji hipotesis.
b.      Tepatkah tipe pertanyaan yang akan Kita ajukan? Jika menggunakan bentuk-bentuk pertanyaan terbuka, mungkin akan mendapatkan informasi tentang sikap, perilaku, atau tentang pkitangan informan tentang sesuatu secara lebih rinci. Sebaliknya informasi-informasi lain mungkin dapat diperoleh dengan lebih cepat dan efisien bila menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertutup. Sebagai contoh, bilamana informan meminta untuk mengungkapkan atau pilihan sesuatu yang lebih disukai di antara dua alternatif atau lebih, sedangkan alternatif itu dapat diungkapkan secara lugas, maka bentuk pertanyaan-pertanyaan terbuka cenderung tidak tepat bahkan mungkin dinilai terlalu boros.
c.       Apakah butir pertanyaan jelas dan tidak mengundang penafsiran gkita? Suatu pertanyaan atau butir pertanyaan yang ambigu atau gkita adalah butir pertanyaan yang tidak mengundang penafsiran yang berlainan serta jawaban yang berbeda-beda dari penafsiran yang majemuk tersebut. Ada beberapa kaidah didalam menyusun pertanyaan untuk menghindari ambiguitas. Pertama, kita harus menghindari pertanyaan yang memuat lebih dari satu gagasan yang dapat direaksi oleh responden. Pertanyaan seperti; “Apakah Kita yakin bahwa tujuan pembelajaran yang Kita rumuskan sudah cukup baik jika dikaji dari dimensi peserta didik dan dikaji dari tujuan institusional sekolah Kita?” Contoh tersebut adalah ambigius, karena informan ditanya sekaligus tentang tujuan pembelajaran dan tujuan institusional sekaligus dalam satu pertanyaan. Kedua, hindari kata-kata atau ungkapan yang ambigu, misalnya “Bagaimana pendapat dan saran Kita tentang butir-butir soal tes ini?” Atau “Bagaimana pkitangan Kita tentangdisiplin siswa jika dikaji dari peran Kita sebagai guru dan sebagai orang tua?” Perlu juga diperhatikan bahwa mungkin pada saat tertentu kata-kata ambigu diperlukan bilamana sengaja bermaksud memancing kerangka pikir yang berbeda dari para informan.
d.      Apakah butir pertanyaan yang Kita rumuskan menggiring informan untuk memberikan alternatif jawaban tertentu? Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja menggiring informan untuk memberikan jawaban tertentu yang diinginkan, hal itu merupakan ancaman terhadap validitas wawancara. Contoh: “Apakah Kita telah membaca catatan-catatan yang saya tulis?” Atau “Apakah Kita telah menyusun langkah-langkah kegiatan sesuai dengan prosedur yang sudah kita bahas?” Mungkin Kita akan mendapatkan sebagian besar informan Kita menjawab “Ya” yang kemungkinan besar tidak proporsional, karena pertanyaan tersebut menyiratkan tidak baik jika informan belum membaca catatan yang ia buat seperti contoh pertanyaan pertama, atau tidak menyusun langkah-langkah kegiatan sesuai prosedur yang telah dibahas bersama seperti pada contoh pertanyaan kedua.
e.       Apakah pertanyaan yang Kita susun menuntut pengetahuan dan informasi yang tidak dimiliki oleh responden? Untuk menjaga agar tidak ada butir pertanyaan yang tidak valid, karena kurangnya pengetahuan informan tentang masalah yang ditanyakan, maka akan lebih baik bilamana pewawancara menggunakan pertanyaan-pertanyaan saringan. Misalnya ketika informan bermaksud menanyakan pendapat informan tentang Peraturan Pemerintah berkenaan dengan Stkitar Nasional Pendidikan, akan lebih baik jika diajukan pertanyaan apakah informan mengetahui tentang peraturan pemerintah dimaksud. Ada kemungkinan pewawancara menjelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang hal yang ditanyakan tersebut, baru kemudian menanyakan pendapat responden?
f.        Apakah pertanyaan yang Kita susun menuntut hal-hal yang bersifat pribadi dan peka sehingga informan Kita menolak menjawabnya? Jika pertanyaan menyentuh hal-hal tersebut, maka harus lebih selektif dan berhati-hati. Pertanyaan-pertanyaan tentang penghasilan atau hal-hal lain yang bersifat pribadi hendaknya diletakkan pada bagian belakang dalam wawancara, yaitu setelah tercapainya hubungan baik dan keakraban (rapport) antara pewawancara dan informan.
g.      Apakah pertanyaan yang Kita ajukan menyiratkan hal-hal yang dianggap baik atau buruk oleh masyarakat? Pada umumnya orang-orang cenderung memberikan jawaban sesuai dengan yang dipkitang baik oleh umum, jawaban-jawaban yang menunjukkan atau menyiratkan kesetujuan pada tindakan-tindakanatau ikhwal yang dipkitang baik. Misalnya kita menanyakan kepada seseorang mengenai perasaannya terhadap anak-anak terlantar. Setiap orang diharapkan memiliki simpati terhadap anak-anak terlantar. Jika kita tidak berhati-hati kita hanya akan mendapatkan jawaban stereotip atau klise tentang perasaannya terhadap anak-anak terlantar tersebut. Beberapa pertanyaan di atas perlu dipahami dengan baik sebagai bahan kajian ketika mengajukan pertanyaan kepada informan.
3.      Menutup wawancara
Jika wawancara telah selesai dilakukan, terlebih dahulu harus menahan diri beberapa saat untuk tidak meninggalkan informan. Hubungan akrab, saling percaya yang telah dibina sejak awal dilakukan wawancara, hendaknya dapat dipertahankan sampai wawancara benar-benar berakhir. Informan harus merasakan kepuasan yang peneliti rasakan. Jika merasa ada bagian-bagian tertentu dari pertanyaan belum dijawab secara tuntas, tidak selayaknya menunjukkan sikap ketidakpuasan dihadapan informan, karena bilamana telah membina hubungan baik, Kita dapat meminta kesediaan informan untuk memberikan informasi melalui wawancara selanjutnya. Ucapkan terima kasih dengan sikap tulus dan hangat bilamana informasi yang diberikan informan telah dirasa cukup. Kemukakan secara terbuka bahwa informasi yang disampaikannya benar-benar bermakna bagi penelitian yang sedang lakukan.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Di dalam kegiatan penelitian, pemahaman data merupakan bagian yang
penting karena akan mengarahkan seorang peneliti untuk memilih instrumen yang cocok dengan data yang diinginkannya tersebut. Menurut jenisnya data dalam penelitian dikelompokkan dalam 4 jenis, yaitu data nominal, data ordinal, data interval, dan data ratio. Untuk memperoleh data di dalam penelitian, peneliti dapat menggunakan teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan melakukan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai atau prestasi tertentu. Secara umum terdapat beberapa bentuk tes, yaitu; (a) tes intelegensi, (b) tes sikap, (c) tes hasil belajar, (d) tes diagnostik, dan (e) performance assessment atau penilaian kinerja. Bentuk tes yang paling sering dipergunakan guru untuk mengetahui perubahan atau kemajuan belajar siswa adalah tes hasil belajar. Selain itu tes juga dapat ditinjau dari segi penyusunannya, bentuk jawaban atau bentuk respon siswa, atau dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan oleh guru. Pemahaman guru tentang berbagai bentuk tes sebagai alat pengumpulan data akan memudahkan guru untuk melakukan pengumpulan data dalam pelaksanaan PTK.
Di antara teknik pengumpulan data non tes yang sering dipergunakan
dalam PTK adalah teknik observasi dan wawancara. Observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan keputusan-keputusan pengajaran Pelaksanaan observasi sebagai alat pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan di dalam persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman data. Agar teknik observasi ini dapat dipergunakan sesuai dengan prosedur yang benar, yaitu: (1) adanya perencanaan bersama, (2) menetapkan fokus pengamatan, membangun kriteria, dan (3) memiliki keterampilan melakukan observasi. (4) melakukan balikan (feedback). Ada beberapa bentuk observasi yang sering digunakan; (a) observasi terbuka, (b) observasi terfokus, (c) observasi terstruktur, (d) observasi sistematik. Di samping observasi, pengumpulan data melalui teknik non tes juga seringkali dilakukan melalui wawancara. Wawancara secara sederhana dapatdiartikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Ada beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan didalam pengumpulan data penelitian, yaitu: (a) wawancara pembicaraan formal, (b) pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka. Dalam pelaksanaan wawancara disamping peneliti berupaya menghimpun data/informasi yang diperlukan, juga harus senantiasa menciptakan hubungan yang akrab, harmonis dan saling percaya. Untuk itu pemahaman terhadap jenisjenis pertanyaan wawancara perlu dipahami guru dengan baik. Penciptaan hubungan yang baik juga diupayakan peneliti sampai mengakhiri wawancara.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar